Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

Beratnya Beban Seorang Istri

Seorang suami yang capek dan letih karena harus pergi kerja tiap hari sedangkan istrinya menghabiskan waktu di rumah, kemudian dia berdoa “Ya Tuhan, aku pergi kerja tiap hari 8 jam sedangkan istriku hanya tinggal di rumah, aku pengen dia tau betapa capeknya diriku kerja. untuk itu ijinkan kami bertukar badan sehari saja, Amin”, rupanya Tuhan mengabulkan doanya.

Keesokan paginya dia bangun sebagai wanita. Dia memasak buat sarapan, membangunkan anak-anaknya, memandikan, menyuapinnya dan menyiapkan bekal makan siang mereka, mengantarnya ke sekolah. balik ke rumah ngambil baju-baju kotor untuk dilaundry, mampir ke bank untuk deposit, pergi ke supermarket buat belanja, pulang menurunkan barang belanjaan, bayar tagihan-tagihan, mandiin binatang kesayangannya, tak terasa udah jam 1 sore. Buru-buru beresin tempat tidur, vakum lanta i, ngepel dapur. udah waktunya jemput anak-anak pulang sekolah, kemudian nyiapin makanan kecil, susu buat anak-anak, beresin pr-pr mereka, setrika sambil nonton tv.

Jam 4:30 sore mulai masak buat makan malem, kemudian beresin piring-piring setelah makan malem, beresin dapur, mandiin anak-anak sampai meninabobokan mereka pada jam 9:00 malem. capeknya udah gak ketulungan, tapi nggak berhenti sampai di situ, masih harus melayani suaminya make love tanpa bisa menolak.

Keesokan paginya dia terbangun oleh bunyi weker, kemudian berdoa lagi” Ya Tuhan, aku gak tau apa yang ada dalam pikiranku, aku terlalu iri pada istriku yang tinggal di rumah sepanjang hari. Tolong ijinkan kami bertukar badan lagi”.

Doanyapun mendapat jawaban :

“Rupanya kamu telah mendapatkan satu pelajaran, Aku akan senang untuk menukar badan kalian seperti sedia kala”. “cuma kamu harus tunggu sampai 9 bulan, karena semalem kamu telah hamil”.

Racun

Jake sedang berbaring di tempat tidur karena sakit… hanya menunggu waktu. Isterinya, Susan berada di sampingnya. Susan memegang tangannya yang lemah dan menangis sesegukkan.

Ketika Susan berdoa, ia memandang isterinya dan bibirnya yang pucat mulai berkata secara perlahan,

“Susan, isteriku,” ia berbisik.

“Suamiku, jangan berbicara, istirahatlah.”

“Susan, saya harus mengakui sesuatu,” ia berkata dengan lemah.

“Tidak ada yang perlu di akui,” jawab Susan dengan bersedih.

“Semuanya baik-baik saja, tidurlah,” kata isterinya sambil menangis.

“Tidak saya ingin mati dengan damai. Susan, saya telah berlaku curang dengan kakakmu, teman baikmu, dan ibumu.”

“Saya tahu…,” jawabnya. “Karena itulah saya meracuni kamu…”

Salah Pengajaran

Pada suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya yang sedang mencuci piring, “Bu, memek itu apa sih?”. Karena ibunya takut jika anaknya mengulang kata-kata itu secara berlebihan, maka yang seharusnya artinya kemaluan wanita diubah oleh ibunya menjadi “piring”.

Lalu, anak tersebut bertanya lagi, “Bu, kontol itu apa sih?”. Jawaban yang seharusnya batang penis, diubah ibunya menjadi “tongkat”.

Lalu, bocah itu bertanya lagi, “Bu, ngenthu itu apaan?”. Arti yang sebenarnya adalah hubungan sex, diubah oleh ibunya menjadi “duduk”.

Tak berberapa lama kemudian, seorang Tokoh Agama yang membawa tongkat datang mencari ibunya. Beliau bertanya kepada anak tersebut, “Ibumu sedang apa?”. Anak itu menjawab, “Ibu sedang cuci memek, silakan ngenthu dulu pak!”.

Betapa kagetnya si Tokoh Agama atas perkataan anak tersebut. Karena sudah tak tahan lagi, Tokoh Agama tersebut pamit pulang. Tiba-tiba anak tersebut berteriak karena Tokoh Agama tersebut lupa membawa tongkatnya. “Pak, kontolnya ketinggalan!!”

Pemilihan Putri Indonesia

Pada pemilihan putri Indonesia kemarin ada sebuah cerita yang tidak ter-expose. Cerita ini terjadi pada saat seleksi (wawancara) antara Juri dengan peserta dari DKI yang akhirnya jadi juara.

Begini ceritanya… :

Juri : “…Selanjutnya, tolong anda sebutkan tokoh idola Anda…”

Putri DKI : “Ehm… sebagai seorang yang nasionalis, saya mengidolakan orang Indonesia… dia adalah PANGERAN DIPONEGORO”

Begitu mantap dan meyakinkan kata-kata yang meluncur dari putri DKI ini…

Juripun begitu terkesan dan kagum padanya, seorang gadis cantik dan muda seperti dia ternyata sangat nasionalis dan bangga dengan tokoh dalam negeri.

Kemudian Juri melanjutkan pertanyaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ringan-ringan saja, tentunya seputar Pangeran Diponegoro.

“Kalau begitu, anda pasti tahu kapan Pangeran Diponegoro meninggal kan?”

Tapi, reaksi sang putri sangat mengagetkan Juri, dengan terbata-bata dan penuh rasa kaget dia bertanya, “APPAAA ??? MENINGGAAALLL???…INNALILLAAHI … ”

Tentu saja Juri ikut-ikutan kaget dan kecewa dengan reaksi putri DKI itu.

Singkat cerita, tanya jawab itu selesai sudah. Tapi, tidak demikian dengan sang putri DKI… Kabar mengenai meninggalnya Pangeran Diponegoro sangat menyedihkan hatinya.

Sampai di luar ruangan, dia bergegas menemui salah seorang peserta lainnya, dari Yogya.

Tanpa menunda waktu, putri DKI mengkonfirmasi kebenaran berita meninggalnya sang idola, Pangeran Diponegoro…

“Mbak, maaf ya… apa benar sih Pangeran Diponegoro sudah meninggal???”, begitu tanya putri DKI kepada putri Yogya.

Tentu saja pertanyaan itu menggelikan bagi putri Yogya…tapi, bagaimanapun dijawabnya juga, “Lho, kan sudah lama mbak… masa mbak nggak tahu sih ?”…

Putri DKI langsung memotong, “Ooo, sudah lama ya, kok saya belum pernah denger ya? Kapan sih mbak ???”

Dengan menahan geli, putri Yogya menjawab, “Yaa… sekitar delapan belas tiga puluh (1830) mbak…”

Kembali putri DKI memotong, “HAAHH… DELAPANBELAS TIGAPULUH ??? HABIS MAGHRIB DONG ??!!!”

21st Century

Our communication - Wireless

Our telephone - Cordless

Our cooking - Fireless

Our youth - Jobless

Our religion - Creedless Baca selengkapnya »

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!