Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!

Tabrakan

Seorang wartawan sedang meliput peristiwa kecelakaan di dekat Ragunan. Karena banyak orang yang mengerumuni lokasi kecelakaan, sehingga wartawan tersebut tidak dapat menerobos untuk melihat korban dari dekat. Wartawan tersebut pun mendapat ide.

“Minggir-minggir semua, saya ayah korban!” ia berseru.

“Saya minta jalan, saya ayah korban.” Benar saja kerumunan itu membiarkan dia lewat. Semua mata terarah kepada wartawan tersebut. (wartawan pun GR, dalam hati: “Berhasil juga nih!!!”)

Ketika sampai di tengah kerumunan, ia terpana melihat SEEKOR ANAK MONYET tergeletak tak berdaya.

100 vs 100.000

Duit seratus bertemu dengan duit seratus ribuan dan terjadilah percakapan di bawah ini.

Duit Seratus: “Hai, kawan ke mana saja sampeyan kok lama nggak ketemu?”

Duit 100 Ribuan: “Iya nih, gue akhir² ini sibuk banget, jalan² ke mall, ke luar negeri, nonton bola di Italia, ke kasino di Las Vegas, golf dan besok ini saya mau ke Swiss di Bank, enak, adem di ruang penyimpanan uang di sana ketemu dengan teman² dari luar negeri.”

“Eh, lalu bagaimana dengan pengalaman kamu?” tanya duit 100 ribuan pada duit seratus.

“Yah, beginilah kalau jadi orang kecil, kamu tahu sendirilah… parkir, tempat ibadah, parkir, tempat ibadah…”

Apakah Saya 100% Beruang Kutub?

Suatu hari di Antartika, seekor beruang kutub sedang duduk di salju dengan anaknya.

Tiba-tiba anak beruang bertanya, “Ayah, apakah saya 100% beruang kutub?

“Ayah beruang itu menjawab, “Tentu saja, Nak. Kamu 100% beruang kutub!”

Beberapa menit kemudian, anak beruang itu kembali bertanya, “Ayah, katakan yang sebenarnya. Saya pasti bisa menerima kenyataan. Betulkah saya 100% beruang kutub? Bukan beruang madu, bukan beruang coklat dan bukan beruang panda?”

Si Ayah beruang itu menjawab, “Nak, saya 100% beruang kutub, dan ibumu 100% beruang kutub, jadi kamu juga jelas-jelas 100% beruang kutub.”

Setelah beberapa menit berlalu, si anak bertanya lagi, “Ayah, jangan berpikir kalau Ayah berkata jujur akan membuat saya sedih. Saya tidak sedih. Saya cuma ingin tahu, apa saya benar-benar 100% beruang kutub?”

Ayah beruang mulai tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya. Kini dia balik bertanya kepada si anak, “Nak, kenapa kamu terus meragukan kalau kamu memang 100% beruang kutub?”

Si anak beruang menjawab, “Karena saya kedinginan!”

26 Orang Gila

Ada 26 orang gila, mereka mau di uji kesehatan mentalnya di Amerika. Mereka diangkut pake pesawat Hercules yang besar! Saat di udara, orang² gila itu berisik karena bermain bola di dalam pesawat.

Sang kapten marah dan menyuruh co-pilot untuk menenangkan mereka.

“Hoi! Berisik banget sih! Jangan maen bola di dalam pesawat dong!!!” bentak co-pilot kepada orang² gila.

Akhirnya situasi menjadi tenang. Tapi lama², si kapten curiga karena situasinya terlalu tenang. Dia menyuruh lagi co-pilotnya untuk cek ke belakang. Ketika co-pilot datang, dia kaget setengah hidup! (setengah mati juga sama aja kan :p). Orang gilanya tinggal 4 orang!!!

“Hei, kalian! Koq tinggal ber-4? Yang lain ke mana?”

“Abisnya ga boleh maen bola di dalem kapal sih. Mereka jadi main bola di luar.”

“HAH?! Terus, kalian kenapa bisa ada di dalam?”

“Kan kita pemain cadangan…”

Efisiensi

Minggu lalu, saya pergi makan malam bersama beberapa teman kantor di sebuah restoran yang kabarnya cukup laris di daerah kota (untuk yang belum tahu, di Jakarta ada yang dinamakan daerah kota). Saat memesan makanan, saya perhatikan pelayan yang melayani kami membawa sepasang sendok di saku bajunya. Sedikit aneh, tapi saya tidak begitu peduli.

Namun, saat pesanan kami mulai diantar, saya melihat pelayan lain membawa pula sepasang sendok disaku bajunya. Saya jadi tertarik untuk melihat sekeliling dan ternyata memang benar dugaan saya, semua pelayan restoran tersebut membawa sepasang sendok di saku baju masing-masing.

Saya jadi ingin bertanya. “Mas kenapa semua pelayan di sini membawa sepasang sendok di sakunya?” tanya saya yang datang membawa piring sate.

“Oh begini mas,” jawab si pelayan, “pemilik restoran ini memutuskan untuk menyewa Andersen Consulting, ahli dalam hal analisa efisiensi kerja, untuk memperbaiki kinerja di restoran ini. Setelah mereka analisa selama beberapa bulan, mereka menyimpulkan bahwa pelanggan restoran ini menjatuhkan sendok makan mereka sebanyak 73,84 persen lebih sering dibandingkan peralatan makan lain yang ada di meja. Menurut Andersen Consulting, itu berarti rata rata 3 pelanggan menjatuhkan sendok per meja setiap jamnya. Jika saja semua karyawan restoran mengantisipasi hal itu, berarti kita bisa mengurangi waktu yang terbuang untuk pulang pergi ke dapur mengambil sendok pengganti dan menghemat waktu 1,5 jam waktu kerja per-shift.”

Saking kagumnya dengan penjelasan si pelayan, tanpa sengaja saya menyenggol salah satu sendok yang ada di meja. Segera saja si pelayan mengambil gantinya dari saku baju sambil berujar, “Betulkan Pak, saya tidak harus pergi ke dapur sekarang untuk mengambil sendok pengganti untuk Bapak!” Saya hanya bisa melongo dengan kejadian itu. Tapi, kisah belum berakhir di situ. Ketika pelayan lain menghidangkan pesanan tambahan, saya tetap memperhatikan sekeliling dan satu lagi hal tampak aneh. Saya perhatikan hampir semua pelayan pria memasang benang yang menyembul di ujung ritsluiting celana mereka. Benang itu diikaitkan ke ujung kancing terbawah dari baju. Lagi lagi rasa ingin tahu mengusik saya. Sebab, ternyata pelayan perempuan tak memakai aksesoris benang tersebut. Ketika si pelayan tadi datang, saya menanyakan soal benang itu.

“Wah Bapak ini orangnya perhatian sekali ya. Tidak semua pelanggan di sini memperhatikan hal-hal sedetail Bapak,” puji si pelayan sedikit menggombal. Saya hanya tersenyum kecil. Apa anehnya orang suka memperhatikan detail?

“Ini juga hasil analisa Andersen Consulting Pak,” katanya melanjutkan, “Mereka menyimpulkan bahwa kami pun harus menghemat waktu yang kami habiskan di kamar kecil ketika buang air kecil. Dengan tali yang dikaitkan ke si “Adik” ini (katanya sambil menunjuk tali itu), kami tidak harus menggunakan tangan ketika mengeluarkannya. Berarti kami akan terbebaskan dari keharusan membasuh tangan setelah buang air kecil. Dan itu menghemat waktu yang terbuang di kamar kecil sebesar 25,92 persen.”

Hampir tersedak saya mendengarkan penjelasan itu. “Memang, dengan tali itu tangan jadi terbebas untuk memegang si Adik”. Tapi, bagaimana caranya untuk memasukkannya kembali ke posisi semula?” tanya saya menyelidik. Dengan setengah berbisik si pelayan berucap, “Andersen Consulting tidak menjelaskan secara spesifik tentang hal itu. Nggak tahu dengan yang lain Pak. Tapi, kalau saya sih pakai sendok yang ada disaku baju ini.”

Rp 70 juta/bulan dari bisnis di internet? Klik di sini dan temukan caranya!