Tukang Daging dan Ibu-ibu Sakit Gigi

Suatu pagi lewatlah seorang penjual daging.

“Dageeeng! Dageeeeennngg!!!” teriaknya. Seorang ibu rumah tangga yang sedang sakit gigi sewot banget mendengar teriakan si tukang daging.

Ibu: “Hei, tukang daging! Lu kagak punya otak ya….!!!???”

Tukang daging : “Wah kebetulan gak punya, Bu. Hari ini daging semua…”

Budek

Jeri pergi ke dokter mengeluh tentang istrinya yang sudah hilang pendengaran.

“Seberapa burukkah pendengarannya?” tanya dokter.

“Entahlah, Dok. Yang jelas saya mesti harus berteriak kalau bicara dengannya.”

“Oke, cobalah anjuran saya. Berdiri sekitar 6 meter darinya, lalu katakan sesuatu. Kalau dia tak bisa mendengarmu, berdirilah lebih dekat darinya,lalu katakan yang Anda katakan tadi. Kalau dia belum juga mendengar, teruslah mendekat. Dengan begitu saya akan tahu berapa jarak maksimal pendengarannya.”

Maka, Jeri pulang ke rumah dan mendapati istrinya sedang memasak di dapur.

Dari jarak 6 meter ia berteriak, “Makan apa kita malam ini?”

Tak ada jawaban. Lalu ia mendekat lagi, berhenti di jarak 5 meter dan menanyakan hal yang sama. Juga tak terdengar jawaban. Begitu juga pada jarak 3 meter.

Akhirnya, ia berdiri di samping istrinya. “Makan apa kita malam ini?” katanya setengah berteriak.

Istrinya berbalik menghadap Jeri, memelototinya, dan berteriak: “Untuk keempat kalinya kubilang: KAMBING GULING!”

Kucing

Budi pada dasarnya tidak menyukai kucing. Ia semakin benci ketika istrinya memelihara seekor kucing. Budi merasa istrinya jadi lebih perhatian pada kucingnya daripada dirinya.

Suatu hari Budi memutuskan untuk membuang kucing tersebut secara diam-diam. Ketika istrinya sedang mandi, ia pamit pergi keluar sebentar dan dibawanya si kucing. Setelah Budi bermobil sekitar 10 km dari rumah, ia pun membuang kucing tersebut.

Anehnya ketika ia sampai di rumah, si kucing sudah ada di sana. Budi heran campur berang. Sore harinya ia pergi lagi. Kali ini si kucing dibuangnya lebih jauh lagi. Namun tetap saja, sesampainya di rumah, kucing istrinya tersebut telah berada di sana.

Budi berusaha membuangnya lebih jauh lagi, lebih jauh lagi, tapi tetap saja si kucing kembali ke rumah mendahului dirinya.

Suatu hari ia tidak saja membawa si kucing pergi jauh, tapi juga berputar-putar dulu. Budi belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kanan lagi, berputar-putar sebelum akhirnya membuang kucing yang dibawanya.

Beberapa jam kemudian ia menelepon istrinya. “Tik, kucingmu ada di rumah?” tanya Budi.

“Ada, kenapa? Tumben nanya si Manis segala,” jawab istrinya agak heran.

“Panggil dia Tik, aku mau tanya arah pulang. Aku kesasar….!”

Jam Tangan

Seorang pemuda sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta dengan kereta Senja Utama. Persis di depannya duduk seorang bapak. Setelah lama berdiam diri sambil menguap sang pemuda bertanya kepada bapak tersebut, “Jam berapa sekarang Pak???”.

Sebuah pertanyaan yang biasa kita lakukan di mana pun kapan pun dan kepada siapa pun, dan biasanya kita selalu dapat jawaban. Tapi kali ini sungguh di luar dugaan, si bapak diam saja. Mengira sang bapak agak kurang dengar pemuda tersebut mengulanginya sampai 3 kali, namun si bapak tetap diam tidak bergeming sedikitpun.

Merasa kesal, pemuda langsung mencolek bapak tersebut dan berkata, “Saya heran mengapa bapak tidak menjawab pertanyaan saya? Apa sich susahnya”, tanyanya kesal.

Si bapak menjawab dengan tenang, “Bukannya saya nggak mau menjawab, tapi nanti kalau saya jawab, kita pasti ngomong-ngomong lagi soal ini soal itu, terus sampai nanti kita jadi akrab”.

Si pemuda melongo mendengar ceramah si bapak, terus dia tanya lagi, “Lalu apa salahnya kalau kita akrab?”.

Si bapak bilang “Nanti anak gadis dan istri saya akan menjemput saya di Gambir, kalau kita sudah akrab, nanti kita akan turun sama-sama, terus saya pasti memperkenalkan mereka sama kamu”.

Si pemuda tambah bingung, “Terus pak..?” tanyanya lagi penasaran.

“Istri saya tuch orangnya baik sekali sama semua orang, nanti dia pasti nawarin kamu mampir ke rumah, nanti kamu mampir dan pasti mandi di rumah saya, terus makan di rumah saya, nanti kamu lama-lama bisa akrab dengan anak gadis saya dan kamu bisa jadi pacar anak saya dan lama-lama kamu bisa jadi menantu saya.” katanya lagi.

Sang pemuda yang tadi sudah bingung sekarang makin bingung, lantas dia tanya, “Terus apa hubungannya sama pertanyaan saya yang pertama?”

Dengan lantang bapak tersebut menjawab, “Masalahnya… SAYA TIDAK MAU PUNYA MENANTU SEPERTI KAMU, JAM TANGAN SAJA NGGAK PUNYA!!!”

Penjaga Rel KA

Sarjo melamar pekerjaan sebagai penjaga lintasan kereta api. Dia diantar menghadap Pak Banu, kepala bagian, untuk wawancara.

“Seandainya ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu, ingin mengetahui seberapa cekatan Sarjo.

“Saya akan pindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain,” jawab Sarjo dengan yakin.

“Kalau handle untuk mengalihkan rel-nya rusak, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu lagi.

“Saya akan turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual.”

“Kalau macet atau alatnya rusak bagaimana?”

“Saya akan balik ke pos dan menelpon stasiun terdekat.”

“Kalau telponnya lagi dipakai?”

“Saya akan lari ke telpon umum terdekat?”

“Kalau rusak?”

“Saya akan pulang menjemput kakek saya.”

“LHO?”, tanya Pak Banu heran dengan jawaban Sarjo.

“Karena seumur hidupnya yang sudah 73 tahun, kakek saya belum pernah melihat kereta api tabrakan.”